Suka suka cinta - 10

Diposting oleh Saiful situbondo pada 12:52, 07-Agu-15 • Komentar (0)
"Dwita, udah dulu. Aku mau ke sekolahan. Kau ikutan?" "Ya... ya. Harus." Suara Dwita terdengar pahit. "Dwita.... Dwita" "Ya..." "Kalau kau punya mobil Kijang atau Panther.... Teman-Teman banyak yang mau ikut. Kendaraan kita kurang.... " "Ya... ya...." Jawab Dwita tapi tilpon wireless sudah terjatuh ke pangkuannya, terus berir jatuh ke tanah be- rumput. Apa yang terjadi dengan Boma dan enam orang temannya? Hati Dwira mengucap. "Ya Tuhan tolong mereka. Tolong Boma, tolong teman-teman saya..." *** BOMA GENDENK SUKA-SUKA CINTA 6. BERSATU DALAM DOA UACA mendung gerimis ketika Phanter biru gelap itu berhenti di depan Pos Pengawas Gunung Gede. CDwita melihat banyak orang berkumpul di halaman. Selain teman-teman sekolah di situ juga ada Pak Syafei Wali Kelas I-4, Pak Bugi Ibrahim Wali Kelas II-9, Ibu Renata, guru Bahasa Inggris. Lalu para orang tua dan keluarga anak-anak rombongan pendaki gunung. Semua kelihatan dalam wajah-wajah mencekam. Yang membuat Dwita ter- duduk di kursi mobil, tak segera turun adalah ketika dia melihat mobil-mobil polisi, lalu empat buah mobil ambulan dan dua kendaraan dinas Pemda setempat. Dada anak perempuan ini terasa sesak. Dia memandang pada Wiwiek, teman yang duduk di sampingnya. "Wiek, kok ada ambulan? Jangan-jangan...." Pintu belakang salah satu ambulan terbuka. Dua orang petugas menurunkan dua tandu lipat. Keduanya bicara dengan tiga orang anggota Polisi. Salah seorang anggota Polisi bicara lewat handy talky. Tak lama kemudian orangorang itu masuk ke dalam Pos Pengawas, ketika keluar lagi mereka membawa perlengkapan, semuanya siap bergerak ke arah Gunung Gede. Dwita segera turun dari mobil. Wiwiek dan teman- temannya mengikuti. Dwita mendekati anggota Polisi yang membawa handy talk, gagah, masih muda, berpangkat Letnan Dua. "Pak, saya boleh ikutan ke gunung?" "Adik siapa?" tanya anggota Polisi itu. "Saya... saya teman anak-anak yang..." "Maaf Dik. Yang boleh naik ke atas cuma petugas. Para orang tua tadi juga banyak yang memaksa ikut naik. Mereka ingin membantu. Tapi tidak diperbolehkan. Semua sudah ada yang menangani, termasuk penduduk setempat yang jadi penunjuk jalan. Jadi adik sebaiknya gabung dengan orang-orang di depan Pos." "Pak, kejadiannya bagaimana?" "Maaf Dik, saat ini saya tidak bisa memberi keterangan apa-apa..." "Teman-teman saya. Mereka... mereka masih hidup?" Dwita bertanya, ingin kejelasan. Pertanyaannya tidak ter-kontrol lagi. Jawaban yang diterima dari Letnan Polisi itu justru membuat hati Dwita ciut. "Lokasi tujuh anak itu sudah ditemukan. Bagaimana keadaan mereka belum dapat dipastikan. Adik agar tenang saja. Silahkan gabung dengan yang lain-lain di depan Pos. Saya harus segera bergabung dengan Tim Pencari yang ada di gunung." Ketika Dwita dan Wiwiek serta teman-temannya yang lain melangkah ke arah Pos Pengawas, dia sempat men- dengar ada yang berkata. "Uh, soknya mau ikutan ke gunung segala Datangnya aja baru gini hari Kita-kita udah nongkrong dari Subuh" Dwita berpaling. Walau tidak melihat tapi dia sudah bisa menduga siapa yang bicara. Ketika dia melihat wajah itu dugaannya tidak keliru. Yang barusan bicara adalah Trini. Anak itu duduk di dekat teras Pos Pengawas, di antara serombongan anak-anak kelas II-9 SMA Nusantara III. Sesaat pandangan mata Dwita dan Trini saling beradu. Wiwiek yang ada di samping Dwita memegang lengan temannya itu lalu berkata. "Acuh aja. Tu anak memang begitu. Mulut ember. Suka bicara seenak jeroannya...." "Badanku lemas Wiek. Aku mau duduk di mobil aja," kata Dwita. "Ayo aku anterin," kata Wiwiek. "Tapi kau nggak mau ketemu orang tuanya teman-teman dulu. Yang duduk di bawah pohon sana kalau aku nggak salah bapak sama ibunya Boma..." "Kalau aku ke sana nanti tu cewek ngomong yang nggak-nggak lagi..." kata Dwita. "Jangan dipikirin. Sama bapak atau ibunya Boma siapa tau kita bisa tanya apa yang sebenarnya terjadi...." Dwita setuju dan menganggukkan kepala. "Tapi kita temuin Wali Kelas dulu, Wiek." Setelah menemui dan menyalami Wali Kelas I-4, Wali Kelas II-9 dan Guru Bahasa Inggris Ibu Renata, Dwita dan Wiwiek beserta teman-temannya yang barusan datang dari Jakarta mendatangi para orang tua yang duduk menggelar tikar di bawah pohon. Mereka adalah orang tua Boma, Ronny, Gita, Vino, Rio, Andi dan Firman. Beberapa di antara orang tua itu, yang datang malam tadi tertidur keletihan. "Saya Dwita, temannya Boma Pak," kata Dwita ketika bersalaman dengan Sumitro Danurejo, ayah Boma. "Maafkan saya dan teman-teman datang terlambat. Baru tau tadi siang..." Ayah Boma, lelaki berkaca mata plus 6 sesaat pandangi wajah anak perempuan yang menyalaminya. Dia tak berkata apa-apa, hanya menganggukkan kepala lalu berpaling pada istrinya yang duduk bersandar di sebelahnya. "Bu...." Dwita menyalami ibu Boma. Belum apa-apa perempuan itu sudah megucurkan air mata. "Doakan ya Nak. Doakan agar Boma dan teman-temannya selamat...." Dwita mengangguk haru. Tadi banyak yang hendak di- tanyakannya tapi kini mulutnya tak sanggup berucap. Dia berpaling pada Wiwiek. Anak ini maklum arti pandangan itu lalu bertanya pada ibu Boma. "Bu, saya dan teman-teman baru dapat kabar tadi siang. Itu juga lewat tilpon. Nggak tau jelas kejadiannya...." Ibu Boma menyeka air matanya. "Dulu Ibu sudah melarang Boma. Jangan naik gunung. Apa lagi sekarang musim hujan. Tadi malam Pak Nugroho, Bapak Kepala Sekolah datang. Memberitahu. Rombongan anak-anak SMA Nusantara III mengalami musibah di Gunung Gede. Nyawa Ibu rasanya seperti amblas...." Perempuan itu menahan isak, mengusut lagi air matanya. Suaminya memeluk bahunya dan membisikkan sesuatu. Ibu Boma melanjutkan. "Malam tadi kami dan Bapak Kepala Sekolah, sama-sama orang tua murid yang lain berangkat ke sini. Cuma sampai di sini. Tidak boleh naik ke Gunung. Cuma Pak Nugroho Kepala Sekolah satu- satunya yang diperbolehkan naik oleh petugas. Itupun sesudah Pak Tatang, Kepala Pos Pengawas