INSAN TANPA WAJAH

Di posting oleh Saiful situbondo pada 08:05 AM, 04-Aug-13 • Komentar (0)
INSAN TANPA WAJAH 1 URUN Tengger siang terik panas membara. Hari itu hari ke 305, merupakan hari terakhir dari tapa Gsamadi yang dilakukan Cakra Mentari di atas pohon tanjung besar yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa. Sekujur tubuhnya mulai dari rambut sampai ke kaki memutih tertutup lapisan debu gurun pasir. Sekian ratus hari dia duduk tidak bergerak, bahkan seolah tanpa bernafas di atas pohon tanjung yang menghadap ke utara. Setiap hari, tepat pada pertengahan siang, sekuntum bunga tanjung melayang jatuh ke arah kepalanya, secara gaib masuk ke dalam tubuh lewat ubun-ubun. Itulah satu-satunya makanan sekaligus minuman yang memberi kehidupan pada Cakra Mentari. Perlahan-lahan matahari bergerak menuju titik ter– tingginya. Menjelang bola penerang jagat itu mencapai titik kulminasinya, sekujur tubuh Cakra Mentari tampak ber– getar. Ada hawa dingin aneh menyelimuti, membuat tubuh pemuda itu mengeluarkan asap tipis yang memancarkan cahaya kebiruan. Sekuntum bunga tanjung luruh, melayang jatuh masuk ke dalam kepalanya. Itulah kuntum bunga yang ke 305, merupakan makanan terakhir di penutup tapa samadinya. Tiba-tiba di arah timur muncul satu titik putih, bergerak ke arah pohon tanjung besar di tengah gurun pasir Teng– ger. Saat demi saat noktah putih ini berubah besar dan ketika hanya tinggal puluhan langkan dari pohon di mana Cakra Mentari berada, benda yang tadi berupa titik itu kini membentuk sosok seorang berpakaian selempang kain putih. Hebat luar biasanya bahkan boleh dikata mengerikan orang ini tidak memiliki wajah, tidak mempunyai muka, licin polos dan rata tanpa mata dan alis, tanpa hidung maupun mulut. Kepala ditumbuhi rambut putih menjulai panjang. Dagu digantungi janggut putih melambai. Hanya itu yang merupakan satu-satunya pertanda bahwa makhluk aneh ini telah berusia lanjut. Samar-samar di tangan kanannya si muka rata ini memegang sebuah tongkat emas yang ujung atasnya berbentuk lingkaran dihias berbagai permata aneka warna. Seperti tertulis pada halaman pertama Kitab Jagat Pusaka Alam Gaib hanya Cakra Mentari seorang yang bisa melihat pohon tanjung di gurun pasir Tengger itu. Kalau kini ada makhluk lain yang mampu mengetahui keberadaan pohon tanjung tersebut, maka berarti dia adalah seorang yang luar biasa ilmu kesaktiannya. Makhluk ini melesat ke atas pohon. Seolah seringan kapas dia berdiri di pucuk pohon paling atas, tatapkan wajah polos ke arah sosok Cakra Mentari yang duduk di cabang pohon di bawahnya. Tongkat emas dimelintangkan di depan dada. “Duabelas purnama telah berlalu. Satu tahun pertama telah berakhir. Aku masih harus menunggu duabelas pur– nama lagi. Setelah itu semua akan berada di tanganku...” Wajah licin itu pancarkan cahaya merah. Tangan yang memegang tongkat emas diajukan ke bawah, ke arah Cakra Mentari. Saat itu juga melesat sinar kuning, mem– bungkus tubuh pemuda itu beberapa ketika lalu lenyap. Di lain kejap makhluk tanpa wajah tidak kelihatan lagi di atas pohon. Hawa dingin yang sejak tadi menyelimuti tubuh Cakra Mentari kini lenyap, begitu pula cahaya kebiruan yang membungkusnya ikut sirna. Hanya beberapa saat setelah makhluk tanpa wajah lenyap dari tempat itu, sang surya sampai pada titik ter– tingginya. Di langit muncul satu lengkungan aneh meman– carkan cahaya tiga warna, merah, biru dan hijau. Lalu dari arah barat gurun bertiup angin kencang. Pohon tanjung besar bergetar keras. Dahan dan rerantingan serta daun-daun dan bunga tanjung bergoyang-goyang. Daun luruh, bunga tanjung berguguran, jatuh ke atas pedataran pasir, lenyap dari pemandangan. Pohon tanjung besar kini tampak gundul. Yang kelihatan hanya batang, cabang serta rerantingan dan tentu saja sosok Cakra Mentari yang masih duduk bersila pejamkan mata di atas dahan. Tiupan angin yang begitu keras membuat seluruh debu gurun pasir yang menyelimuti sekujur tubuh Cakra Mentari mulai dari rambut sampai ke ujung kaki terkikis pupus. Dan sungguh aneh luar biasa Keadaan diri pemuda ini tidak berubah sedikitpun. Pakaian hitamnya bersih tidak lusuh. Rambut hitam pekat tidak bertambah panjang. Begitu juga kumis kecil, janggut dan berewok tipisnya sama sekali tidak berubah, rapi seperti dulu dan tidak pula menjadi panjang. Wajah gagah bersih kelimis Di langit matahari mencapai titik tertinggi. Desss Kepulan asap memancarkan cahaya merah, biru dan hijau keluar dan ubun-ubun, liang telinga, hidung serta mata Cakra Mentari yang masih terpejam. Bersamaan dengan itu lengkungan tiga warna yang ada di langit seperti ular raksasa menggeliat bergerak berputar lalu melesat ke arah pohon tanjung dan masuk ke dalam tubuh si pemuda. Saat itu pula putera Tajurpambayan dan Sulin dari Desa Tumpang di barat Pegunungen Tengger ini perlahan-lahan membuka kedua matanya. Pertama sekali dilihatnya adalah gurun pasir Tengger. Dia menatap ke langit putih bersih, lalu memandang ke atas memperhatikan pohon besar yang kini tinggal dahan dan ranting. Akhirnya pemuda ini perhatikan dirinya sendiri. “Tubuhku terasa sangat enteng. Pandangan mataku lebih tajam dari yang sudah-sudah. Tiga ratus lima hari telah berlalu. Aneh, diriku tidak mengalami perubahan. Apakah saat ini aku sudah memperolah ilmu baru sesuai petunjuk dalam kitab?” Ingat akan kitab, Cakra Mentari meraba balik pakaian– nya sebelah kiri di mana dia menyimpan Kitab Jagat Pusaka Alam Gaib. Kitab masih berada di situ. “Sesuai petunjuk di dalam kitab, aku baru bisa membaca kitab pada hari yang ke tigaratus enam. Berarti besok. Semen– tara menunggu apa yang harus aku lakukan?” Tiba-tiba Cakra Mentari merasa ada serangkum angin bertiup dari bawah. Dia tukikkan pandangan ke bawah pohon. “Aneh, bagaimana tahu-tahu orang berjubah hitam itu ada di bawah sana tanpa aku melihat kedatangannya?” Cakra Mentari berucap dalam hati sewaktu melihat di bawah pohon ada seorang tinggi besar mengenakan jubah dan sorban hitam. Orang ini hanya memiliki satu mata. Mata sebelah kiri tinggal merupakan rongga besar dan dalam mengerikan, masih digenangi darah. Dari bawah pohon dia berusaha melesat ke atas. Namun setiap dia melakukan hal itu ada satu cahaya kuning membendung gerakannya, membuat dia berbalik jatuh ke tanah. Orang di bawah pohon sama sekali tidak bisa melihat pohon tanjung besar tapi mampu melihat sosok Cakra Mentari yang seolah duduk bersila di awang-awang. “Cakra Mentari, turunlah cepat Ada satu hal penting yang harus aku sampaikan padamu” Orang berjubah hitam di bawah pohon yang bukan lain adalah Deewana Khan berteriak. “Orang itu mengenal diriku. Apakah aku mengenalnya?” Cakra Mentari menduga-duga. “Aku Deewana Khan. Abdi penolongmu. Cepat turun” Orang bermata satu kembali berseru. Sebelumnya Tajurpambayan, ayah Cakra Mentari pernah bercerita pada pemuda itu tentang seorang asing bernama Deewana Khan. Namun saat itu si pemuda tidak ingat apa-apa lagi. Di pedataran pasir Tengger sebelah timur tiba-tiba ber– kelebat satu bayangan putih. “Insan Tanpa Wajah...,” ucap Deewana Khan dengan suara bergetar. Wajah seramnya berubah. Rasa cemas mencekam diri. “Cakra Mentari Cepat turun” Deewana Khan berteriak. Seperti diceritakan sebelumnya, Deewana Khan adalah manusia misterius yang telah menolong kelahiran bayi Cakra Mentari dan sekaligus melindungi anak itu ketika terjadi penitisan oleh Suma Mahendra (Baca serial Wiro Sableng berjudul ‘Misteri Bunga Noda’). Merasa orang sangat memerlukan dirinya Cakra Mentari segera hendak melompat turun dari dahan di mana saat itu dia duduk bersila. Namun tubuhnya sebelah bawah tak bisa digerakkan. Seolah menempel dengan da– han pohon Bagaimanapun pemuda itu berusaha dengan berbagai cara tetap saja tubuhnya tak bisa lepas dari dahan yang didudukinya. Cakra ingat akan petunjuk dalam Kitab Jagat Pusaka Alam Gaib halaman kedua, Kelak kau akan mendapatkan ilmu yang lebih hebat. Maka pemuda ini segera kerahkan tenaga dalam. Namun sebelum sesuatu terjadi, tiba-tiba di bawah sana terdengar satu letusan keras disertai berki– blatnya selarik cahaya kuning terang menyilaukan, disusul jeritan. Pohon tanjung besar bergoyang kencang. Tubuh Deewana Khan terpental tiga tombak, terkapar di peda– taran pasir mengepulkan asap kuning. Dia berusaha bangkit sambil menunjuk ke arah orang berselempang kain putih memegang tongkat emas. Mulutnya lelehkan darah kental. “Insan Tanpa Wajah... Aku tahu siapa kau. Aku tahu siapa dirimu. Manusia culas pengkhianat busuk” Orang berselempang kain putih goyangkan tongkat emas di tangan kanan. Selarik sinar kuning kembali mele– sat ke arah Deewana Khan. Untuk kedua kalinya lelaki bertubuh besar mengenakan jubah hitam itu terpental. Sorban hitam tanggal dari kepalanya. Kali ini dia tak mampu bangkit lagi. Sekujur tubuhnya berubah kuning, lalu menciut dan berubah hitam. Angin gurun bertiup kencang. Pasir gurun beterbangan menutupi sosok mayat Deewana Khan hingga akhirnya tertimbun dan lenyap dari peman– dangan. Di atas pohon Cakra Mentari memperhatikan semua yang terjadi. Entah mengapa dia merasa sedih melihat kematian orang berjubah dan bersorban hitam walau dia tidak tahu siapa adanya orang itu, seperti ada kontak kejiwaan yang tidak dipahaminya. Di bawah pohon orang berselempang kain putih tanpa wajah arahkan mukanya pada Cakra Mentari. Saat itu pula si pemuda mendengar suara mengiang di kedua telinganya. “Jangan lakukan apa saja yang tidak diberi petunjuk di dalam Kitab Jagat Pusaka Alam Gaib. Jika kau melanggar pantangan dan merusak apa yang sudah direncanakan, maka dirimu akan mengalani kerusakan lebih dulu.” Cakra Mentari terdiam, namun hatinya berkata. “Siapa yang menyampaikan ucapan padaku? Orang aneh tak berwajah di bawah sana? Apakah aku mengenalnya? Mengapa dia mengancam diriku? Apakah aku berada di bawah kekuasaan makhluk itu? Apakah aku harus tunduk kepadanya? Apa yang terjadi dengan diriku.” Seperti tertulis dalam Kitab Jagat Pusaka Alam Gaib halaman kedua, Pada saat kau mendudukkan diri di cabang pohon, saat itu pula terputus hubunganmu dengan masa lalu. Kau tidak ingat apa-apa lagi. Bahkan kau tidak ingat lagi ayah ibumu. Sebenarnya Cakra Mentari sebelumnya telah melihat makhluk aneh tak berwajah itu. Yakni tatkala makhluk tersebut mencelakai Suma Mahendra sehingga Suma ter– pental jatuh ke bawah Gunung Mahameru. Namun karena jalan pikirannya dengan masa lalu terputus maka dia tidak mengingat lagi kejadian itu. Hanya ada satu hal saja dari masa lalu yang masih melekat di benaknya. Yaitu namanya. Dia tidak pernah lupa kalau dia bernama Cakra Mentari. Tiba-tiba untuk kedua kalinya terdengar suara mengi– ang di telinga Cakra Mentari. “Anak manusia bernama Cakra Mentari. Jangan menyelidik dengan hatimu. Jangan mencari tahu dengan pikiranmu. Jangan berusaha turun dari pohon karena itu bisa menghancurkan dirimu sendiri. Besok pagi begitu matahari terbit di timur kau berkewajiban melanjutkan membaca Kitab Jagat Pusaka Alam Gaib pada halaman ke tiga.” Cakra Mentari memandang ke bawah pohon. Makhluk tanpa wajah itu ternyata tak ada lagi di tempatnya semula. WIRO SABLENG INSAN TANPA WAJAH 2 ANGIT di ufuk timur mulai terang pertanda di kejauhan sana fajar telah menyingsing dan tak berapa lama lagi Lsang surya akan kelihatan memunculkan diri. Di atas dahan pohon tanjung yang menghadap ke utara Cakra Mentari segera ingat. Saat itu adalah saat di mana dia harus segera membuka Kitab Jagat Pusaka Alam Gaib. Cakra keluarkan kitab dari balik baju hitamnya. Dia me– nunggu sesaat sampai keadaan lebih terang baru mem– buka kitab pada halaman ke tiga dan mulai membacanya. Yang disebut halaman ke tiga ini ternyata terdiri dari empat halaman. KITAB JAGAT PUSAKA ALAM GAIB - Halaman Ke Tiga - Bunga Tanjung Bunga Bertuah Wahai anak manusia 305 hari telah berlalu, tapa samadimu telah selesai Sekarang kau akan menghadapi masa depan dengan bekal ilmu silat serta kesaktian dari alam gaib yang tidak ada tandingannya Kau kini memiliki ilmu pukulan sakti bernama ‘Tiga Cahaya Alam Gaib’ Tidak manusia tidak jin yang akan sanggup menghadapimu Tuntunan ilmu silat akan kau dapatkan melalui mimpi di alam tidurmu Usapkan tangan kananmu ke kaki kanan usapkan tangan kirimu ke kaki kiri maka kau akan mendapatkan sepasang kasut pembungkus kaki Kasut ini yang akan menuntun setiap langkah perjalananmu Hal pertama yang harus kau lakukan begitu menginjakkan kaki di tanah memandanglah ke arah barat laut Kau akan melihat satu gurun pasir yang puluhan kali lebih luas dari Pedataran Pasir Tengger Itulah Gurun Pasir Thar di negeri India Pejamkan matamu maka kekuatan gaib akan membawamu memasuki sebuah goa bernama Goa Binaker Di sana kau akan menemui seorang Resi terkapar di lantai goa Jazadnya hidup dalam kematian mati dalam kehidupan Masuklah ke dalam tubuh Resi ini Kau akan mampu melakukan karena kau memiliki kesaktian Di dalam tubuh sang Resi kau akan menemukan sebuah patung batu lambang dari lelaki dan perempuan yang tengah melakukan sanggama Itulah patung Kamasutra Ambillah patung itu Selanjutnya kekuatan gaib akan membawamu kembali ke tanah Jawa Dunia serba fana, demikian juga dengan diri serta ilmu baru yang kau miliki Namun dalam kefanaan ada kebakaan Ilmu kesaktian yang ada dalam dirimu akan tetap berada di sana untuk selama-lamanya Namun ada petuah yang harus kau ikuti dan tak boleh kau tolak Kau harus bisa meniduri paling sedikit 41 orang gadis yang masih perawan Rayulah mereka, perlihatkan Patung Kamasutra Jika mereka sudah berada di bawah pengaruhmu tempelkan sekuntum bunga tanjung di keningnya Niscaya dia akan menyerahkan diri padamu Namun rahasia harus dijaga Karena itu setiap gadis yang berhasil kau tiduri harus kau bunuh Pada saat kau bercumbu, bunga tanjung akan datang sendiri dan berada dalam genggamanmu Bunga tanjung juga dapat kau jadikan senjata rahasia yang mematikan Namun ada pantangan yang harus kau ingat jangan sekali-kali bunga tanjung sampai melekat atau menempel di keningmu Untuk menambah kekuatan ilmu dalam dirimu Ada tugas lain yang harus kau laksanakan Kau harus membunuh sebanyak mungkin para pendekar golongan putih rimba persilatan tanah Jawa Tetapi akan lebih baik jika kau mampu membuat dirinya sengsara seumur-umur dengan melumpuhkan kejantanannya Letakkan bunga tanjung di bawah pusarnya maka kekuatan alam gaib akan menyelesaikan perkara Tugasmu terakhir setelah semua tugas di atas selesai kau laksanakan adalah menyerahkan Patung Kamasutra pada seseorang yang akan menunggumu di puncak Gunung Mahameru tepat di tempat di mana kau pernah bersamadi pada malam hari Jum’at Legi minggu pertama duabelas purnama dari sekarang Wahai anak manusia Jika kau melaksanakan petunjuk dalam kitab maka kau kelak akan menjadi seorang tokoh besar Kau akan menjadi seorang sakti mandraguna Kau akan menjadi rajadiraja rimba persilatan Namun bila kau menolak melakukan atau sengaja menyesatkan diri maka kutuk akan jatuh atas dirimu Azab kesengsaraan akan membuat kau menderita seumur-umur Jalan nasibmu telah ditentukan oleh apa yang dinamakan takdir Wahai anak manusia Pohon tanjung akan masuk ke dalam tanah itulah saatnya kau meninggalkan tempat ini Ingat baik-baik semua yang tertulis di halaman ini Karena Kitab Jagat Pusaka Alam Gaib akan lenyap dari alam fana untuk selama-lamanya Bunga Tanjung Bunga Bertuah Setelah bersamadi di atas pohon tanjung di pedataran gurun Tengger, Cakra Mentari memiliki daya ingat luar biasa. Sekali membaca saja dia sanggup mengingat semua yang tertulis dalam halaman ke tiga yang terdiri dari empat lembar. Selain itu perubanan besar terjadi dalam jiwa dan dirinya. Sebelumnya pemuda ini adalah seorang yang memiliki hati mulia, pembela rakyat, penegak keadilan dan menjadi musuh besar kaum penjahat termasuk para tokoh silat penjilat yang berada di istana. Ketika membaca hala– man ke tiga Kitab Jagat Pusaka Alam Gaib di mana dia harus merusak kehormatan 41 orang gadis dan membu– nuh para pendekar silat golongan putih, pemuda ini me– rasa itu memang satu tugas yang harus dilaksanakannya. Menggauli 41 orang gadis Bukankah itu satu kenikmatan luar biasa? Samadi setahun serta ilmu yang kini dimiliki Cakra Mentari serta isi Kitab Jagat Pusaka Alam Gaib seolah-olah telah mencuci otak pemuda itu. Membuatnya berubah menjadi seorang pemuda berhati dingin dan menghalalkan segala cara demi mempertahankan ilmu kesaktian yang dimilikinya.

Goa Mulut Naga

Di posting oleh Saiful situbondo pada 03:52 PM, 27-Jul-13 • Komentar (0)
Goa Mulut Naga.............. tingkah. Wajah cantik itu mendongak sedikit, matanya memandang tajam dan menggetarkan jantung. Wajah cantik itu seakan menggeram dan ingin melepaskan murkanya. "Hmm, eeh... aku... aku... maksudku, aku...," Soka Pura menggeragap karena merasa bersalah, menganggap jurus 'Cakar Matahari'-nya tadi adalah penyebab terlukanya si gadis. Soka semakin panik lagi melihat mata gadis itu makin lama semakin sayu, wajahnya kian seperti... [Baca selengkapnya]

Goa Mulut Naga

Di posting oleh Saiful situbondo pada 03:31 PM, 27-Jul-13 • Komentar (0)
Goa Mulut Naga.............. betapa tajamnya logam berbentuk bintang Itu hingga bisa memotong batu karang walau hanya sepotong kecil. Jika senjata itu tak dialiri tenaga dalam dan tentunya mengandung racun tertentu, tak mungkin batu karang Itu bisa terpotong sebagian. Perawan Hutan hanya memandang sekejap larinya senjata rahasia itu, kemudian ia segera memandang ke arah semak-semak hutan tepi pantai. la yakin senjata Itu... [Baca selengkapnya]